Senin, 22 Desember 2014

teori belajar, pembelajaran aktif dan SETS



A. Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik atau aliran tingkah laku, diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan.
Beberapa menurut para ahli  :

1. Ivan P. Pavlov
Teori conditioning, dengan melakukan percobaan terhadap anjing. Seekor anjing diberi
makan dan lampu. Makanan yang diberikan oleh Pavlov disebut perangsang tak bersyarat,
sementara bel atau lampu yang menyertainya disebut perangsang bersyarat. Perangsang tak
bersyarat yang disertai dengan perangsang bersyarat tersebut, anjing memberikan respons
berupa keluarnya air liur. Ketika perangsang bersyarat diberikan tanpa perangsang tak
bersyarat, dapat menimbulkan respons yang sama. Menurut Pavlov, pengkondisian yang
dilakukan pada anjing tersebut dapat juga berlaku pada manusia.

2. Edwin Guthrie
Teori Pavlov kemudian dikembangkan yang berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu
dapat diubah, tingkah laku baik diubah menjadi buruk, begitu sebaliknya. Menurut
Guthrie, stimulus tidak harus berbentuk kebutuhan biologis, karena hubungan antara
stimulus dan respons cenderung bersifat sementara. Sautu respons akan lebih kuat dan
menjadi kebiasaan bila respons tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus.
Guthrie termasuk mempercayai bahwa hukuman memegang peran penting dalam prose
belajar, sebab jika diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan
seseorang. Tiga metode pengubahan tingkah laku :
a. Metode respons bertentang. Jika anak takut terhadap sesuatu, letakkan sesuatu yang
ditakuti tersebut ke benda yang ia sukai. Maka, lambat laun anak akan tidak takut lagi.
b. Metode membosankan. Jika anak mencoba mengisap rokok, minta kepadanya untuk
merokok terus sampai bosan. Setelah bosan ia akan berhenti sendiri.
c. Metode mengubah lingkungan. Jika anak bosan belajar, ubahlah lingkungan belajarnya
dengan suasana lain yang lebih nyaman dan menyenangkan sehingga membuat ia
menjadi betah belajar.


3. Watson
Teori di atas kemudian dekembangkan lagi oleh Watson, ia menyimpulkan, bahwa pengubahan tingkah laku dapat dilakukan melalui latihan / membiasakan mereaksi terhadap stimulus-stimulus yang diterima. Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang terjadi dalam belajar dan menganggapnya sabagai faktor yang tak perlu diketahui. Sebab menurut Watson, faktor-faktor yang teramati tersebut tidak dapat menjelaskan proses belajar sudah terjadi atau belum. Ia tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa diukur. Watson dapat meramalkan perubahan apa yang terjadi pada siswa, dan hanya dengan cara itulah psikologi dan ilmu tentang belajar dapat disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain (fisika atau biologi).

4. Skinner
Dengan menggunakan tikus percobaan dapat memahami tingkah laku siswa secara tuntas menurut Skinner perlu memahami hubungan antara satu stimulus dengan stimulus lainnya, memahami respon itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya membuat segala sesuatunya menjadi bertambah rumit. Dari hasil percobaannya, Skinner membedakan respons menjadi dua yaitu respons yang timbul dari stimulus tertentu dan operant respons, yang timbul dan berkembang karena diikuti oleh perangsang tertentu. Enam konsep “operant conditioning” :
a. Penguatan positif dan negatif
b. Shapping
c. Pendekatan suksesif
d. Extinction
e. Chaining of respons
f. Jadwal penguatan
Skinner lebih percaya pada “penguatan negatif” misalnya, jika siswa membuat kesalahan dan dilakukan pengurangan terhadap sesuatu yang mengenakkan baginya, maka pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaikai kesalahannya.

5. Thorndike
Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Belajar dapat dilakukan dengan mencoba-coba. Karakteristik belajar mencoba-coba :
a. Adanya motif pada diri seseorang yang mendorong untuk melakukan sesuatu.

b. Seseorang berusaha melakukan berbagai macam respons dalam rangka memenuhi motif-
motifnya.
c. Respon-respons yang dirasakan tidak bersesuaian dengan motifnya dihilangkan.
d. Akhirnya seseorang mendapatkan jenis respons yang paling tepat.
Beberapa hukum tentang belajar menurut Thorndike :
a. Hukum kesepian : jika seseorang siap melakukan sesuatu, ketika melakukannya maka ia
puas.
b. Hukum latihan : jika respons terhadao stimulus diulang-ulang, maka akan memperkuat
hubungan antara respons dengan stimulus.
c. Hukum Akibat : bila hubungan antara respons dan stimulus menimbulkan kepuasan, maka
tingkatan penguatannya semakin besar.

6. Clark Hull
Stimulus ala Hull selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, meskipun respons mungkin akan bermacam-macam bentuknya. Implikasi praktisnya adalah guru harus merencanakan kegiatan belajar yang dilakukan terhadap motivasi belajar siswa. Dengan adanya motivasi, maka belajar merupakan penguatan. Menurut pengritik, teori behavioristik ini tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak hal di dunia pendidikn yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus respons.
Kritik juga diarahkan pada kelemahan teori ini yang mengarah berpikir linier, konvergen, dan kurang kreatif, termasuk masalah pembentukan yang cenderung membatasi keleluasaan untuk berpikir dan berimajinasi.

B. Teori Humanistik
Teori yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Teori ini lebih tertarik dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar. Teori ini bersifat elektik, artinya apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia”.
1. Bloom dan Krathwol
Menunjukkan yang dikuasai oleh siswa tercakup dalam tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif dan psikomotor. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonimi ini telah banyak membantu praktis pendidikan untuk merumusakan tujuan-tujuan belajar dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional serta dapat diukur. Teori Bloom dijadikan pedoman untuk membuat butir-butir soal ujian, bahkan oleh orang-orang yang sering mengkritik taksonomi tersebut.

2. Kolb
Empat tahapan belajar :
a. Pengalamn konkret
b. Pangamatan aktif dan reflektif
c. Konseptualisasi
d. Eksperimentasi aktif
Semacam ini terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran siswa.

3. Honey dan Mumford
Menggolongkan siswa atas empat tipe, yaitu sebagai berikut :
a. Siswa tipe aktivis : mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru,
cenderung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog, namun
biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu, atau identik dengan sikap
mudah percaya.
b. Siswa tipe reflektor : cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah.
c. Siswa tipe teoris : biasanya sangat kritis, senag menganalisis dan tidak menyukai
pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif.
d. Siswa tipe pragmatis : menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dalam segala
hal, mereka tidak suka bertele-tele membahas aspek teoretis-
filosofis dari sesuatu.

4. Habermas
Belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun sesama manusia. Tiga tipe belajar :
a. Technical learning (belajar teknis)
b. Practical learning (belajar praktis)
c. Emancipatory learnig (belajar emansipatoris)




5. Carl Rogers
Menegmukakan lima hal penting dalam proses belajar humanistik, yaitu :
a. Hasrat untuk belajar : hasrat untuk belajar disebabkan adanya hasrat ungin tahu manusia
yang terus menerus terhadap dunia sekelilingnya.
b. Belajar bermakna : seseorang yang beraktivitas akan selalu menimbang-menimbang
apakah aktivitas tersebut mempunyai makna bagi dirinya.
c. Belajar dengan inisiatif sendiri : menyiratkan tingginya motivasu internal yang dimiliki.
d. Belajar dan perubahan : dunia terus berubah, karena itu siswa harus belajar untuk dapat
menghadapi kondisi dan situasi yang terus berubah.

6. Abraham Maslow
Kebutuhan pada diri manusia selalu menuntut pemenuhan, dimulai dari tahapan yang paling dasar secara hierarkis menuju kepada kebutuhan yang paling tinggi, tahapan-tahapan kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Physiological needs
b.Safety / security needs
c. Social needs
d. Esteem needs
e. Self-actualization
Tujuan pendidikan seharusnya bersifat ideal, dan teori humanis inilah yang menjelaskan bagaimana tujuan ideal itu seharusnya.

C. Teori Belajar Konstruktivistik
Memahami belajar sebagai proses pembentukan pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pengatahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang guru kepada orang lain.
Ciri-ciri belajar berbasis konstruktivistik temuan Driver dan Oldham :
a. Orientasi, yaitu siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik dengan memberi kesempatan melakukan observasi.
b. Elisitasi, siswa mengungkapkan idenya dengan jalan berdiskusi menulis, membuat poster dan lain-lain.
c. Restrukturisasi ide, klarifikasi ide dengan ide orang lain, membangun ide baru, mengevaluasi ide baru.

d. Penggunaan ide baru dalam berbagai situasi, yaitu ide atau pengetahuan yang telah terbentuk perlu diaplikasikan pada bernacam-macam situasi.
e. Review, yaitu dalam mengaplikasikan pengetahuan, gagasan yang ada perlu direvisi dengan menambahkan atau mengubah.
Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan melainkan suatu proses pembentukan. Von Glaserfeld mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu : (a) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (b) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan tentang sesuatu hal, dan (c) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lain
Faktor-faktor yang membatasi proses konstruksi pengetahuan adalah sebagai berikut:
a. Hasil konstruksi yang telah dimiliki seseorang
b. Domain pengalaman seseorang
c. Jaringan struktur kognitif seseorang
Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan dilakukan oleh siswa. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling menentukan terwujud gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri.
Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan sendiri, melalui bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya yang disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Hasil belajar konstruktivistik lebih tepat dinilai dengan metode evaluasi goal-free. Evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik, memerlukan proses pengalaman proses pengalaman kognitif bagi tujuan-tujuan konstruktivistik.
Beberapa hal penting tentang evaluasi dalam aliran konstruktivstik, adalah :
a. diarahkan pada tugas-tugas autentik
b. mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berpikir yang lebih tinggi
c. mengkonstruksi pengalaman siswa
d. mengarah evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.





PEMBELAJARAN AKTIF DAN SETS

Sets adalah kepanjangan dari sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Dasar pendekatan ini, setelah menggunakan pendekatan ini siswa akan memiliki kemampuan memandang suatu cara terintegrasi dengan memperhatikan keempat unsur, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengetahuan. Urutan ringkasan pendekatan ini membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains (S-pertama) ke bentuk teknologi (T) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (S-kedua) diperukan pemikiran tentang berbagai implikasinya pada lingkungan (E) secara fisik maupun mental. Secara tidak langsung, hal ini menggambarkan arah pendekatan SETS yang relatif memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan (manusia).
Jadi, pendidikan SETS bukan pendidikan angan-angan atau di atas kertas saja, melainkan benar-benar membahas sesuatu yang nyata yaitu, bisa dipahami, dapat dilihat dan dibahas dan bisa dipecahkan jalan keluarnya. Dengan kata lain, pendekatan ini didefinisikan sebagai belajar dan mengajar mengenai sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Ini berarti bahwa peserta didik dalam pembelajarannya selain mempelajari teori tentang sains (ilmu pengetahuan) mereka juga menengok kehidupan nyata mereka yang berhubungan dengan teori yang dipelajari, sehingga akan berdampak positif dalam pemahaman peserta didik.
Maka, dengan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society), hasil pembelajaran diharapkan mampu memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupan sebagai manusia pribadi, anggota masyarakat, warga negara, sehingga siap untuk mengikuti pendidikan selanjutnya.
Belajar berdasarkan konstruktivisme adalah “mengonstruk” pengetahuan. Belajar bermakna apabila peserta didik belajar mengkonstruksikan (membangun) pengetahuan, sikap, atau ketrampilannya sendiri.
Kegiatan konstruktivisme terlihat dalam pembelajaran dengan menggunakan SETS, peserta didik dituntut untuk bisa menghubungkaitkan antara unsur-unsur SETS. Ini bisa diawali dengan menggunakan contoh yang mereka alami sendiri atau yang mereka pahami mengenai kehidupan sehari-hari mereka.
Dengan adanya pemahaman itu mereka bisa mengkonstruk (membangun) pengetahuan yang baru, salah satunya adalah melalui interaksi, baik dengan pendidik maupun antar peserta didik.
Selain itu teori yang menjadi landasan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society), adalah cognitive development, atau sering diartikan dengan perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetika yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistem syaraf.
Teori yang terakhir yang digunakan dalam pendekatan SETS adalah teori behaviorisme. Menurut teori behaviorisme, manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang akan memberikan pengalaman-pengalaman belajar.
Dalam menerapkan teori behaviorisme, yang terpenting adalah para guru, perancang pembelajaran, dan pengembang program-program pembelajaran harus memahami karakteristik peserta didik dan karakteristik lingkungan belajar agar tingkat keberhasilan peserta didik selama kegiatan pembelajaran dapat diketahui. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) menggunakan beberapa teori yang saling mendukung, sehingga terjadi keberhasilan dalam proses maupun hasil pembelajarannya.


Kelebihan diterapkan pendekatan SETS :
  1. Siswa memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegrasi dengan memperhatikan keempat unsur SETS, sehingga dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengetahuan yang telah dimiliki.
  2. Melatih siswa peka terhadap masalah yang sedang berkembang di lingkungan mereka.
  3. Siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan dengan mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik. 
  4. Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif

Kelemahan diterapkan pendekatan SETS
  1. Siswa mengalami kesulitan dalam manghubungkaitkan antar unsur-unsur dalam pembelajaran.
  2. Membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam pembelajaran.
  3. Pendekatan SET hanya dapat diterapkan dikelas atas.
  4. Bagi guru yang tidak berwawasan luas kesulitan.
Tahap-tahap Pendekatan SETS 
Secara operasional National Science Teacher Association menyusun tahapan pembelajaran sains dengan pendekatan SETS sebagai berikut :
a. Tahap invitasi 
Pada tahap ini guru memberikan isu/ masalah aktual yang sedang berkembang di masyarakat sekitar yang dapat dipahami peserta didik dan dapat merangsang siswa untuk mengatasinya. Guru juga bisa menggali pendapat dari siswa, yang ada kaitannya dengan materi yang akan dibahas.
b. Tahap eksplorasi
Pada tahap ini, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasi tersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan dan sumber-sumber dokumen publik lainnya.
c. Tahap solusi
Pada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan.
d. Tahap aplikasi
Siswa diberi kesempatan untuk menggunakan konsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.
e. Tahap pemantapan konsep
Guru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa.

Pengertian Pembelajaran Aktif
Pengertian Pembelajaran Aktif - Dalam beberapa kesempatan ini dalam kalangan pendidik banyak yang mengusulkan pembelajaran aktif ditingkatkan kembali. Bagi orang awam memahami dengan pembelajaran disekolah sudah merupakan pembelajaran aktif. Ternyata dalam dunia pendidikan pembelajaran aktif tidak diartikan dengan sederhana.
Untuk mengetahui pembelajaran aktif yang tepat dilakukan, maka sebagai tenaga pendidik harus mengetahui pembelajaran aktif seperti apa. Bonwell, memberikan gambaran tentang karakteristik sebagai berikut:
1. Pengembangan keterampilan, pemikiran dan daya analisis yang menjadi tujuan utama bukan penyampaian informasi yang dilakukan pengajar.
2. Mengerjakan tugas yang berkaitan dengan materi lebih baik supaya siswa tidak menjadi pasif.
3. Eksplorasi nilai dan sikap yang dimiliki siswa yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan.
4. Menekankan daya berpikir yang kritis, analisis, dan mampu memberikan evaluasi.
5. Terjadinya umpan balik lebih cepat terjadi pada proses pembelajaran.

Karekateristik ini lebih memudahkan tenaga pendidik untuk menerapkan pembelajaran aktif dan akan lebih tepat sasaran dan tercapai hasil yang diinginkan. Pembelajaran aktif memiliki beberapa strategi yang dapat anda gunakan:
- Siswa menjadi pusat perhatian. Maka dengan ini siswa justru akan lebih akan mengeksplor
kemampuannya, dari pada terpusat oleh pengajar
- Dalam penyampaian materi kaitkan dengan kondisi kenyataan.


- Bertindak cermat melalui deferensiasi. Melalui tindakan ini bila terdapat siswa yang belum
memiliki kepintaran dan kecermatan yang diinginkan akan lebih cepat terdeteksi. Dan
mampu bertindak cermat.
-Media menjadi sarana belajar yang fungsional. Selagi untuk memberikan kemampuan
analisis dan daya kritis.
-Pembelajan aktif sejatinya dapat dilakukan pada setiap jenjang pendidikan. Tinggal
meningkatkan kemampuan tenaga pengajar agar dapat mencapai tujuan yang telah
diinginkan.



DAFTAR PUSTAKA
Siregar, Eveline dan Nara, Hartini. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Penerbit Ghalia In

Tidak ada komentar:

Posting Komentar